View AllNews

Sosial

Daerah

Latest News

Rabu, 19 Agustus 2026

Rudenim Tanjungpinang Deportasi Dua WNA Pelanggar Keimigrasian ke Negara Asal

 


TANJUNGPINANG — Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Pusat Tanjungpinang melaksanakan pendeportasian terhadap dua warga negara asing, masing-masing satu warga negara Palestina dan satu warga negara Nigeria, pada Selasa (18/8/2026) melalui Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang.


Pendeportasian tersebut merupakan pelaksanaan Tindakan Administratif Keimigrasian terhadap warga negara asing yang melakukan pelanggaran keimigrasian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.


Warga negara Palestina dikenai tindakan keimigrasian karena izin tinggal yang dimilikinya telah berakhir masa berlaku dan masih berada di wilayah Indonesia, sebagaimana diatur dalam Pasal 78 Ayat (3) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian.


Sementara itu, warga negara Nigeria dikenai tindakan keimigrasian karena tidak dapat memperlihatkan dan menyerahkan Dokumen Perjalanan atau Izin Tinggal yang dimilikinya kepada Pejabat Imigrasi yang bertugas dalam rangka pengawasan keimigrasian, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71 huruf b Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian.


Sebelum dideportasi, kedua warga negara asing tersebut menjalani proses pendetensian di Rudenim Pusat Tanjungpinang. Selama berada dalam pendetensian, petugas melaksanakan penanganan administratif, verifikasi identitas, pengamanan, serta pemenuhan persyaratan dokumen perjalanan sebagai bagian dari proses pemulangan ke negara asal.


Kepala Bidang Penempatan, Keamanan, Pemulangan, dan Deportasi Rudenim Pusat Tanjungpinang, I Wayan Putu Wiadnya, dalam briefing kepada jajaran petugas menyampaikan bahwa pendeportasian merupakan bagian dari tugas dan fungsi Rudenim dalam penyelesaian penanganan orang asing yang dikenai Tindakan Administratif Keimigrasian.


“Pendeportasian merupakan salah satu tugas dan fungsi Rumah Detensi Imigrasi dalam rangka penyelesaian penanganan orang asing. Setiap pelaksanaan harus dipastikan berjalan sesuai dengan ketentuan, mulai dari kelengkapan administrasi, kesiapan deteni, pengamanan, hingga proses pemulangan ke negara asal. Kita tidak hanya memulangkan deteni, tetapi juga memastikan seluruh proses dilaksanakan secara profesional, tertib, aman, dan dapat dipertanggungjawabkan,” jelas I Wayan Putu Wiadnya.


Dalam kesempatan terpisah, Kepala Rumah Detensi Imigrasi Pusat Tanjungpinang, Erybowo Radyan Asmono, menegaskan bahwa penegakan hukum keimigrasian merupakan bagian penting dalam menjaga ketertiban keberadaan orang asing di wilayah Indonesia.


“Penegakan hukum keimigrasian harus dilaksanakan secara tegas, profesional, dan tetap mengedepankan prinsip humanis. Setiap orang asing yang berada di wilayah Indonesia wajib mematuhi ketentuan keimigrasian. Ketika terjadi pelanggaran, negara harus hadir memberikan kepastian hukum melalui tindakan yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan,” ujar Erybowo.


Pendeportasian tersebut merupakan bagian dari upaya penegakan hukum keimigrasian dalam menjaga tertib keberadaan orang asing di wilayah Indonesia. Pelaksanaan tindakan administratif dilakukan secara profesional dan sesuai ketentuan yang berlaku, sejalan dengan amanat Imigrasi untuk Rakyat dalam memberikan kepastian hukum dan perlindungan kepada masyarakat.  :::

Selasa, 18 Agustus 2026

Api Terkendali, Danrem 083/Bdj Tegaskan Komitmen Jaga TNBTS Tak Boleh Padam

 


PROBOLINGGO – Selama 14 hari, tim gabungan menghadapi medan ekstrem untuk mengendalikan Karhutla di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Operasi yang berlangsung 3–17 Agustus 2026 tersebut kini dinyatakan aman, lancar dan terkendali, dengan kawasan terdampak yang ditangani mencapai 1.121,66 hektare.


Danrem 083/Baladhika Jaya Kolonel Inf Wahyu Ramadhanus Suryawan selaku Dansektor Penanganan Karhutla Wilayah Korem 083/Bdj mengatakan operasi tidak mudah. Tebing terjal, ketinggian, vegetasi semak dan ilalang kering membuat api cepat merambat. Di udara, kabut tebal juga sempat menghambat pelaksanaan water bombing.


Kendala tersebut dihadapi dengan memperkuat koordinasi antara TNI-Polri, BPBD Provinsi dan empat wilayah kabupaten, TNBTS, BMKG, instansi terkait, relawan dan masyarakat. Setiap unsur mengambil peran sesuai kemampuan, sementara dukungan informasi dan pemberitaan turut membantu menangkal hoaks selama operasi berlangsung.


Kini, setelah kondisi dinyatakan terkendali, Satgas menyiapkan langkah lanjutan berupa penguatan sistem deteksi dini, integrasi lintas sektoral dan edukasi secara masif. Langkah tersebut menjadi bagian dari evaluasi agar kejadian serupa dapat dicegah dan kawasan TNBTS tetap aman.


“Operasi boleh selesai, tetapi menjaga TNBTS tidak boleh berhenti,” tegas Dansektor. Menurutnya, Bromo dan TNBTS merupakan aset nasional sekaligus destinasi wisata dunia yang harus dijaga bersama sebagai warisan alam bagi generasi mendatang.  :::

13.881 Warga Mengungsi, Astamaops Kapolri Pastikan Penanganan Gempa Manggarai Bergerak Cepat

 


Manggarai, NTT, 17 Agustus 2026 — Polri memaksimalkan operasi kemanusiaan untuk masyarakat terdampak gempa bumi di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Keseriusan tersebut ditunjukkan dengan turunnya langsung Astamaops Kapolri Komjen Pol. Dr. Muhammad Fadil Imran, M.Si. ke wilayah terdampak untuk memastikan penanganan berjalan cepat dan kebutuhan masyarakat terpenuhi.


Pada Senin (17/8/2026), Astamaops Kapolri bersama Wakapolda NTT Brigjen Pol. Faizal, S.I.K., M.H. dan Kapolres Manggarai AKBP Levi Defriansyah, S.I.K., S.H., M.Si., mendatangi Posko Pengungsi Barang Kolo, Kelurahan Mata Air, Kecamatan Reok.


Berdasarkan data yang dilaporkan Kapolres Manggarai AKBP Levi Defriansyah pada 17 Agustus 2026 pukul 23.00 WITA, tercatat 163 korban, terdiri dari 27 orang meninggal dunia, 32 orang luka berat, dan 104 orang luka ringan.


Kapolres Manggarai juga melaporkan terdapat 45 titik posko pengungsian yang tersebar di delapan kecamatan dengan total 13.881 pengungsi. Data tersebut bersifat dinamis dan terus diperbarui sesuai perkembangan di lapangan.


Datang, Cek, Langsung Bantu


Sekitar pukul 12.40 WITA, Astamaops Kapolri tiba di Posko Pengungsi Barang Kolo. Setibanya di lokasi, Astamaops Kapolri langsung mengecek kondisi pengungsi dan kebutuhan masyarakat.


Dalam kunjungan tersebut, Polri membagikan 2.500 paket bantuan sosial/sembako, menyalurkan tenda darurat, serta menyerahkan 2 unit Starling untuk mendukung pelayanan kepada masyarakat.


Setiap paket sembako berisi beras 5 kilogram, gula 1 kilogram, mi instan, teh celup, kecap, biskuit, dan minyak goreng.


Bantuan tersebut melengkapi dukungan yang telah didistribusikan ke berbagai posko berupa tenda, terpal, genset, makanan dan minuman, serta bantuan kesehatan.


Kapolres Manggarai AKBP Levi Defriansyah menegaskan bahwa jajaran Polri berupaya memastikan masyarakat tidak menghadapi bencana seorang diri.


“Kami pastikan masyarakat tidak sendiri. Kami hadir di posko, membantu evakuasi, menyalurkan sembako, menyiapkan tenda darurat, memberikan pelayanan kesehatan, sekaligus menjaga keamanan. Apa yang menjadi kebutuhan masyarakat di lapangan kami data dan kami koordinasikan agar segera ditindaklanjuti,” ujar Levi.


Bersinergi, Satu Gerak untuk Masyarakat


Penanganan gempa di Manggarai dilakukan secara terpadu dan lintas instansi. Polri tidak bekerja sendiri, melainkan bersinergi dengan TNI, Basarnas, BPBD, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, relawan, dan berbagai unsur masyarakat.


Masing-masing unsur bergerak sesuai tugasnya. TNI mendukung evakuasi, pengamanan, mobilisasi personel dan logistik. Basarnas fokus pada pencarian, pertolongan dan evakuasi korban. BPBD bersama pemerintah daerah mengoordinasikan penanganan kebencanaan, pendataan, kebutuhan pengungsi serta pengelolaan posko.


Sementara itu, tenaga kesehatan memberikan pelayanan medis dan memantau kondisi para pengungsi, termasuk kelompok rentan seperti anak-anak, lansia dan penyandang disabilitas.


Polri berperan dalam evakuasi, pelayanan posko, distribusi bantuan, pengamanan, patroli serta memastikan koordinasi antarlembaga berjalan efektif.


Sinergi tersebut penting karena jumlah pengungsi mencapai ribuan orang dan tersebar di puluhan titik.


Kapolres Manggarai menegaskan bahwa kolaborasi menjadi kunci agar penanganan tidak berjalan sendiri-sendiri.


“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Semua unsur punya peran masing-masing dan harus saling menguatkan. TNI, Basarnas, BPBD, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, relawan dan masyarakat semuanya bergerak untuk satu tujuan, yaitu menyelamatkan dan membantu masyarakat terdampak,” kata Levi.


45 Posko, 13.881 Pengungsi


Menurut data Kapolres Manggarai, 45 posko pengungsian tersebar di delapan kecamatan, yakni Langke Rembong, Reok, Reok Barat, Cibal, Cibal Barat, Lelak, Wae Rii, dan Satar Mese.


Total terdapat 13.881 pengungsi yang berada di posko-posko tersebut.


Jumlah pengungsi terbesar berada di Kecamatan Reok dan Wae Rii. Kecamatan Reok memiliki 7 posko dengan 4.488 pengungsi, sedangkan Wae Rii memiliki 17 posko dengan 4.476 pengungsi.


Beberapa titik dengan jumlah pengungsi besar antara lain Posko Robek 1.500 jiwa, Posko Barangkolong 1.330 jiwa, Posko Golo Mendo 1.058 jiwa, Posko Tengku Romot 602 jiwa, dan Posko Golo Sita 583 jiwa.


Tantangan di Lapangan


Kapolres Manggarai mengatakan penanganan memiliki sejumlah tantangan, mulai dari luasnya wilayah terdampak, banyaknya titik pengungsian, kebutuhan logistik yang berbeda-beda, hingga data yang terus bergerak.


“Tantangannya cukup besar. Pengungsi tersebar di 45 titik, kebutuhan setiap posko berbeda, sementara data di lapangan terus bergerak. Karena itu koordinasi harus cepat. Ketika satu posko membutuhkan sesuatu, kita harus segera tahu dan mencari solusinya bersama,” ujar Levi.


Di tengah situasi tersebut, personel Polri juga melakukan patroli untuk menjaga keamanan dan mencegah potensi gangguan kamtibmas.


“Dalam situasi bencana, masyarakat membutuhkan bantuan sekaligus rasa aman. Jadi kami tidak hanya mengantar bantuan, tetapi juga memastikan kondisi di pengungsian tetap aman. Personel akan terus berada di lapangan,” tegas Levi.


Ratusan Personel Bergerak


Operasi kemanusiaan di Manggarai melibatkan 100 personel Polri, 31 personel TNI, 68 personel Brimob termasuk Resimen 2 Pelopor Korps Brimob Polri, 5 personel Basarnas, dan 6 personel BPBD Jawa Timur.


Personel gabungan melakukan evakuasi korban, pelayanan pengungsi, distribusi bantuan, dukungan kesehatan, pengamanan lokasi, serta patroli.


Berdasarkan laporan Kapolres Manggarai, hingga 17 Agustus 2026 pukul 23.00 WITA tercatat 2.398 fasilitas mengalami kerusakan, meningkat dari data sebelumnya sebanyak 2.081 fasilitas.


Kerusakan meliputi fasilitas pemerintah, pendidikan, fasilitas umum, fasilitas masyarakat, dan fasilitas kesehatan.


Data Bergerak, Respons Harus Cepat


Polri bersama seluruh unsur terkait terus memperbarui data korban, pengungsi, kerusakan, serta kebutuhan masyarakat sebagai dasar menentukan prioritas penanganan berikutnya.


Setelah meninjau Kecamatan Reok, Astamaops Kapolri bersama rombongan melanjutkan perjalanan menuju Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, untuk melihat langsung kondisi korban dan penanganan bencana.


Kapolres Manggarai memastikan jajarannya akan terus berada bersama masyarakat.


 “Data berubah, kebutuhan berubah, maka respons juga harus cepat menyesuaikan. Prinsip kami sederhana: siapa yang membutuhkan harus kami bantu, dan di mana masyarakat membutuhkan kehadiran Polri, di situ personel kami berada,” ujar Levi.


Operasi kemanusiaan di Manggarai menunjukkan bahwa penanganan bencana merupakan kerja bersama. Polri hadir, TNI bergerak, Basarnas menyelamatkan, BPBD mengoordinasikan, tenaga kesehatan melayani, pemerintah daerah memastikan kebutuhan warga, dan masyarakat serta relawan ikut menguatkan.


Semua bergerak dalam satu tujuan: menyelamatkan, membantu, dan memastikan masyarakat terdampak tidak menghadapi bencana sendirian. :::

Senin, 17 Agustus 2026

Dansektor Tegaskan Karhutla Bromo Harus Tuntas, Tak Boleh Sisakan Bara

 


PROBOLINGGO – Upaya memastikan kawasan Gunung Bromo benar-benar aman dari Karhutla terus dilakukan Satgas Karhutla Wilayah Korem 083/Bdj. Danrem 083/Baladhika Jaya Kolonel Inf Wahyu Ramadhanus Suryawan, S.Sos., M.M.S., M.Han., selaku Dansektor, turun langsung meninjau kawasan Puncak P30 (Pundak Lembu), Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo, untuk memastikan titik api (firespot) telah padam sepenuhnya.


Peninjauan dilakukan di tengah medan yang berat untuk memvalidasi kondisi riil di lapangan. Selain memastikan tidak ada lagi firespot, Satgas juga mewaspadai kemungkinan ground fire atau bara yang masih tersembunyi di bawah permukaan tanah dan dapat kembali menyala ketika tertiup angin kencang. Karena itu, penyisiran dilakukan secara detail pada area terdampak kebakaran.


“Kami hadir langsung di titik P30 untuk memastikan seluruh firespot sudah padam total. Evaluasi menyeluruh terus dilakukan agar penanganan Karhutla di kawasan Bromo ini tuntas tanpa menyisakan potensi bahaya baru,” tegas Kolonel Wahyu. Memasuki tahap lanjutan, fokus Satgas diarahkan pada cooling down dan penyisiran untuk memastikan tidak ada bara yang kembali berkembang menjadi titik api.


Pemantauan di lapangan juga diperkuat dengan pemantauan udara guna mendeteksi kemungkinan asap maupun hotspot yang masih tersisa. TNI, Polri, BPBD, relawan dan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS) terus bergerak dalam satu koordinasi untuk mempercepat pengamanan kawasan sekaligus mencegah kebakaran susulan.


Bagi Satgas Karhutla Wilayah Korem 083/Bdj, api padam bukan berarti tugas selesai. Proses pendinginan, penyisiran dan pemantauan akan terus dilakukan hingga kawasan benar-benar aman. Bersamaan dengan itu, pemulihan lingkungan dan evaluasi jalur wisata terus dimatangkan dengan satu prioritas: Bromo aman, masyarakat terlindungi, dan alam tetap lestari. ::::

Minggu, 16 Agustus 2026

Tim Gabungan Pastikan TNBTS Aman, Bara Tersembunyi Jadi Perhatian Utama

 


PROBOLINGGO – Perkembangan penanganan Karhutla di TNBTS mulai menunjukkan hasil. Kondisi kawasan secara umum semakin kondusif, namun Satgas Karhutla Wilayah Korem 083/Bdj tetap melakukan penyisiran dan pendinginan untuk memastikan tidak ada bara yang kembali memicu kebakaran.


Minggu (16/8/2026), Danrem 083/Baladhika Jaya Kolonel Inf Wahyu Ramadhanus Suryawan selaku Dansektor Penanganan Karhutla Wilayah Korem 083/Bdj bersama Dandim 0819/Pasuruan Letkol Inf Boga Bramiko, BNPB, BPBD dan petugas TNBTS mendampingi tim lapangan utusan khusus Presiden bidang pariwisata meninjau langsung sejumlah lokasi terdampak.


Peninjauan dilakukan untuk melihat progres penanganan sekaligus memastikan pendinginan berjalan menyeluruh. Sejumlah area masih menjadi perhatian karena memiliki potensi menyimpan bara, terutama pada medan dengan kontur tinggi dan sulit dijangkau. Di wilayah Pasuruan, luasan kawasan terdampak tercatat sekitar 1.120,3 hektare.


Dansektor memastikan seluruh unsur tetap bekerja dalam satu koordinasi. TNI, Polri, BNPB, BPBD, petugas TNBTS, relawan dan berbagai unsur terkait terus melakukan pemantauan, penyisiran serta pendinginan sebagai langkah mencegah munculnya kembali titik api.


Progres terus bergerak, kewaspadaan tetap dijaga. Satgas Karhutla Wilayah Korem 083/Bdj akan terus mengawal penanganan hingga kawasan TNBTS benar-benar aman dan terkendali. Menjaga Bromo bukan hanya memadamkan api, tetapi memastikan alam tetap lestari untuk generasi mendatang. :::

Sabtu, 15 Agustus 2026

Cegah Api Kembali Berkobar, Danrem Pantau Langsung Pendinginan Kawasan TNBTS

 


PROBOLINGGO – Tidak ditemukannya titik api bukan berarti penanganan Karhutla di TNBTS berakhir. Karena itu, Danrem 083/Baladhika Jaya Kolonel Inf Wahyu Ramadhanus Suryawan, S.Sos., M.M.S., M.Han., turun langsung meninjau proses penyisiran dan pendinginan di sejumlah kawasan terdampak, Jumat (14/8/2026).


Didampingi Dandim 0820/Probolinggo Letkol Inf Ribut Yudo Apriyantono, Danrem memastikan personel gabungan bekerja menyisir setiap area yang masih memiliki potensi menyimpan bara. Pendinginan dilakukan pada lokasi bekas terbakar untuk mencegah api kembali muncul dan meluas ke kawasan lainnya.


Di lapangan, TNI, Polri, BPBD, Damkar, Balai Besar TNBTS dan relawan bahu-membahu menangani dampak kebakaran. Danrem menyampaikan apresiasi atas kerja keras seluruh personel sekaligus menegaskan bahwa penanganan harus dilakukan sampai kondisi kawasan benar-benar aman.


“Yang kita kejar bukan hanya api yang terlihat, tetapi juga potensi api yang bisa muncul kembali. Karena itu penyisiran dan pendinginan harus dilakukan dengan teliti dan menyeluruh,” tegas Danrem.


Korem 083/Baladhika Jaya memastikan penanganan Karhutla akan terus dikawal bersama seluruh unsur terkait. Nihil api bukan akhir pengawasan. Selama masih ada potensi bara, kewaspadaan tetap dijaga. Targetnya jelas: TNBTS aman, kebakaran tidak berulang, dan kawasan konservasi tetap terlindungi. :::